Sikap PKL terhadap rencana pemindahan

Posted: November 10, 2010 in News

SAMPIT-Sikap beragam ditunjukkan pedagang kaki lima (PKL) Taman Kota Sampit, terhadap rencana pemindahan. Ada yang kurang setuju, namun ada yang pasrah. Namun jika dipindah, maka semua PKL harus pindah.

 

Awi (32) pedagang kaset dan DVD khawatir jika dipindah ke bekas bioskop Mentaya akan sepi pembeli. Karena hanya mereka yang ingin belanja saja yang datang. Saat ini menurutnya, penghasilan mereka pas-pasan, yakni Rp 20 ribu-Rp 30 ribu sehari. Itupun ramainya hanya hari Sabtu dan Minggu.

“Kami komunikasikan wacana ini dengan Ketua Umum Pedagang Taman Kota Sampit Aril. Walaupun masih rencana, kami takut hal ini betul-betul akan direalisasikan pemerintah daerah, dan tentunya ini bisa mengancam pendapatan keluarga kami yang sudah sangat kecil ini,”tambahnya.

“Munawarti (28) salah satu pedagang sepatu yang sudah berjualan empat tahun ditaman ini menyatakan, akan tetap mengikuti aturan yang berlaku, asalkan pemindahan itu dilakukan secara keseluruhan, bukan pedagang tertentu saja. “Kalau semuanya dipindah, saya rasa tidak masalah, karena waktu dulu kita diarahkan ketempat sekarang ini, juga kekhawatirannya takut sepi, tapi ternyata tidak seperti yang dipikirkan, karena buktinya ramai saja ditempat ini,”ungkapnya.

Sementara itu, menanggapi aspirasi dari para pedagang Camat Ketapang Halikinnor SH mengatakan, yang namanya pro kontra menanggapi program pemerintah merupakan hal yang wajar. Namun, wacana relokasi PKL ini pun tentunya, memang tidak semudah seperti membalikan telapak tangan, karena perlu dilakukan pengkajian yang dalam terlebih dahulu oleh instansi teknis yakni Dinas Pekerjaan Umun (PU) Kotim terkait rencana tersebut.

Anggota DPRD Kotim Dapil 2 Ketapang Otjim Supriatna menambahkan, bahwa dewan mendukung adanya wacana relokasi para pedagang diareal sekitar taman tersebut, pasalnya areal itu bukan tempat untuk berdagang, tapi tempat masyarakat umum yang ingin bersantai bersama keluarganya. “Sekarang saja hampir sebagian besar trotoar yang ada, bagi pejalan kaki, habis digunakan untuk mereka berdagang. Namun hal ini tentunya perlu proses, tidak langsung diterapkan, nantinya pun dilakukan sosialisasi dengan baik,” tuturnya. (kalteng pos/sampitonline.com)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s